Komplikasi yang sering Timbul pada Masa Nifas dan Upaya Penangannya “Sakit Kepala,Nyeri Epigastrik, dan Penglihatan Kabur”

 

Komplikasi yang sering Timbul pada Masa Nifas dan Upaya Penangannya “Sakit Kepala,Nyeri Epigastrik, dan Penglihatan Kabur”

 

MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN NIFAS DAN MENYUSUI

Komplikasi yang sering Timbul pada Masa Nifas dan Upaya Penangannya

“Sakit Kepala,Nyeri Epigastrik, dan Penglihatan Kabur”

Dosen Pembimbing: Eva Nurhidayati.S.ST, M.Kes

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                Disusun oleh :

                                    Devi latifah febriana               719610711


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS WIRARAJA SUMENEP

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

D3 KEBIDANAN

2019/2020

 


KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya akhirnya kami kelompok 5 dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Komplikasi yang sering Timbul pada Masa Nifas dan Upaya Penangannya: Sakit Kepala, Nyeri Epigastrik, dan Penglihatan Kabur”ini tepat waktu.

Penyusunan makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan Nifas & Menyusui. Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari bahwa tanpa bimbingan, pengarahan dan bantuan berbagai pihak tentunya tidak dapat diselesaikan sebagai manamestinya. Oleh karena itu tidak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1.      Ibu Eva nurhidayati S.ST, M.Kes selaku dosen mata kuliah Asuhan Kebidanan Nifas & Menyusui.

2.   Rekan-rekan tingkat 2 Semester 3 Prodi D3 Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Wiraraja Sumenep.

3.      Serta semua pihak yang telah membantu kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu.

Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

 

                                                                                                Sumenep, 5 November 2020

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan indikator utama derajat kesehatan masyarakat dan ditetapkan sebagai salah satu tujuan Millenium Development Goals (MDGs). AKI Indonesia diperkirakan tidak akan dapat mencapai target MDG yang ditetapkan yaitu 102 per 100 000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Kematian ibu akibat kehamilan, persalinan dan nifas sebenarnya sudah banyak dikupas dan dibahas penyebab serta langkah‐langkah untuk mengatasinya. Meski demikian tampaknya berbagai upaya yang sudah dilakukan pemerintah masih belum mampu mempercepat penurunan AKI seperti diharapkan.

Pada Oktober yang lalu kita dikejutkan dengan hasil perhitungan AKI menurut SDKI 2012 yang menunjukkan peningkatan (dari 228 per 100.000 kelahiran hidup menjadi 359 per 100.000 kelahiran hidup). Diskusi sudah banyak dilakukan dalam rangka membahas mengenai sulitnya menghitung AKI dan sulitnya menginterpretasi data AKI yang berbeda‐beda dan fluktuasinya kadang drastis. (Depkes, 2013).

Masa nifas merupakan masa yang rawan bagi ibu, sekitar 60% kematian ibu terjadi setelah melahirkan dan hampir 50% dari kematian pada masa nifas terjadi pada 24 jam pertama setelah melahirkan, diantaranya disebabkan oleh adanya komplikasi masa nifas. Selama ini perdarahan pasca persalinan merupakan penyebab kematian ibu, namun dengan meningkatnya persediaan darah dan system rujukan, maka infeksi menjadi lebih menonjol sebagai penyebab kematian dan morbiditas ibu.

Dari itulah seorang bidan perlu mengetahui tentang cara deteksi dini komplikasi pada ibu masa nifas dan penangannya. Hal ini ditujukan untuk terwujudnya asuhan nifas yang kompeten sehingga komplikasi pada masa nifas tidak lagi terjadi. Dan dalam makalah ini kami akan membahas tentang sakit kepala, nyeri epigastrik, penglihatan kabur, pembengkakan di wajah/ekstremitas, demam, dan muntah, serta rasa sakit saat berkemih yang bisa saja terjadi pada masa nifas.

1.2.      Rumusan Masalah

                 1.   Apa saja tanda gejala dan penanganan sakit kepala, nyeri epigastrik, penglihatan kabur pada masa nifas?

1.3.      Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui tentang tanda gejala dan penanganan sakit kepala, nyeri epigastrik, penglihatan kabur pada masa nifas

BAB II

PEMBAHASAN

Komplikasi pada masa nifas biasanya jarang ditemukan selama pasien mendapat asuhan yang berkualitas, mulai dari masa kehamilan sampai dengan persalinannya. Jika pasien sering bertatap muka dengan bidan melalui pemeriksaan antenatal maka bidan mempunyai lebih banyak kesempatan untuk melakukan penapisan terhadap berbagai kemungkinan komplikasi yang mungkin mucul pada masa in partu dan nifas. Komplikasi masa nifas adalah keadaan abnormal pada masa nifas yang disebabkan oleh masuknya kuman-kuman ke dalam alat genetalia pada waktu persalinan (Sulistyawati, 2009).

Masa nifas merupakan masa yang rawan bagi ibu, sekitar 60% kematian terjadi setelah melahirkan dan hampir 40% dari kematian pada masa nifas terjadi 24 jam pertama setelah persalinan,di antaranya disebabkan komplikasi kehamilan pada masa nifas (Saleha, 2009).

Patologi yang sering terjadi pada masa nifas adalah sakit kepala, nyeri epigastrik, dan penglihatan kabur.Beberapa kemungkinan komplikasi masa nifas dapat didieteksi oleh bidan secara dini melalui observasi, wawancara, maupun pemeriksaan (Nurjanah, 2013)

 

2.1. Sakit Kepala

1. Definisi

Sakit kepala adalah rasa sakit atau tidak nyaman antara orbita dengan kepala yang berasal dari struktur sensitif terhadap rasa sakit (Neurology and neurosurgery illustrated Kenneth,105).

2. Etiologi

Kadang - kadang dengan sakit kepala yang hebat tersebut, ibu mungkin menemukan bahwa penglihatannya menjadi kabur atau berbayang. Sakit kepala yang hebat disebabkan karena terjadinya edema pada otak dan meningkatnya resistensi otak yang mempengaruhi Sistem Saraf Pusat, yang dapat menimbulkan kelainan serebral (nyeri kepala, kejang) dan gangguan penglihatan ( Prawirohardjo, 2013)

 

3. Patofisiologi

Menurut Mardiah (2013) nyeri kepala pada masa nifas dapat merupakan gejala preeklampsia, jika tidak diatasi dapat menyebabkan kejang maternal, stroke, koagulopati dan kematian. Sakit kepala yang menunjukkan suatu masalah yang serius adalah:

      a. Sakit kepala hebat

      b. Sakit kepala yang menetap

      c. Tidak hilang dengan istirahat

      d. Depresi post partum

 

 

 

 

4. Gejala Klinis

Menurut Mardiah (2013) beberapa gejala klinis yang menandai adanya preeklampsia, yaitu:

      1)      Tekanan darah naik atau turun

      2)      Lemah

      3)      Anemia

      4)      Napas pendek atau cepat

      5)      Nafsu makan turun

      6)      Kemampuan berkonsentrasi kurang

      7)      Tujuan dan minat terdahulu hilang (merasa kosong)

      8)      Kesepian yang tidak dapat digambarkan; merasa bahwa tidak seorang pun mengerti

      9)      Serangan cemas

      10)  Merasa takut

      11)  Berpikir obsesif

      12)  Hilangnya rasa takut

      13)  Control terhadap emosi hilang

      14)  Berpikir tentang kematian

 

5. Penanganan Masalah

 

Menurut Saifuddin (2013) beberapa penanganan untuk mengatasi sakit kepala yang dialami ibu post partum, yaitu:

      1)      Informed consent

      2)      Lakukan penilaian klinik terhadap keadaan umum sambil mencari riwayat penyakit sekarang dan terdahulu dari pasien atau keluarga

      3)      Pemberian  Parasetamol dan Vit B Complek 2x/hari, Tablet zat besi 1x/hari

      4)      Jika tekanan diastol >110mmHg, berikan antihipertensi sampai tekanan diastolik

      5)      Pasang infus RL dengan jarum besar no.16 atau lebih

      6)      Ukur keseimbangan cairan

      7)      Persiapan rujukan

      8)      Periksa Hb

      9)      Periksa protein urine

      10)  Observasi tanda-tanda vital

      11)  Lebih banyak istirahat

 

2.2. Nyeri epigastrik

1. Definisi

            Nyeri epigastrik adalah perasaan nyeri atau sakit di daerah perut bagian atas dan tengah/ daerah epigastrium (Nurjanah, 2013)

 

2. Etiologi

Nyeri daerah epigastrium atau daerah kuadran atas kanan perut, dapat disertai dengan edema paru. Keluhan ini sering menimbulkan rasa khawatir pada penderita akan adanya gangguan pada organ vital di dalam dada seperti jantung, paru dan lain-lain (Ambarwati, 2010)

3. Patofisiologi

Preeklamsia ialah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan, umumnya terjadi pada triwulan ke-3 kehamilan. Sedangkan eklampsia merupakan penyakit lanjutan pre­eklamsia, yakni gejala di atas ditambah tanda gangguan saraf pusat, yakni terjadinya kejang hingga koma, nyeri frontal, gangguan penglihatan, mual hebat, nyeri epigastrium, dan hiperrefleksia (Saifuddin, 2013)

Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu daripada tanda-tanda lain karena terjadi reimplantasi amnion ke dinding rahim pada trimester ke-3 kehamilan. Pada keadaan ibu yang tidak sehat atau asupan nutrisi yang kurang, reimplantasi tidak terjadi secara optimal sehingga menyebabkan blokade pembuluh darah setempat dan menimbulkan hipertensi. Diagnosis hipertensi dapat dibuat jika kenaikan tekanan sistolik 30 mmHg atau lebih di atas tekanan yang biasanya ditemukan atau mencapai 140 mmHg atau lebih, dan tekanan diastolik naik dengan 15 mmHg atau lebih atau menjadi 90 mmHg atau lebih. Penentuan tekanan darah ini dilakukan minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam pada keadaan istirahat (Saifuddin, 2013).

 

5. Gejala Klinis

Menurut Saifuddin (2013) beberapa tanda gejala klinis nyeri epigastrium, yaitu:

                  1)      Kira-kira 90 persen pasien terdapat lelah,

                  2)      65 persen dengan nyeri epigastrium, 30 persen dengan mual dan muntah

                  3)      31 persen dengan sakit kepala.

6. Penanganan Masalah

Menurut Saifuddin (2013) beberapa penanganannya, yaitu :

   1)          Informed consent

   2)          Mengobservasi TTV

   3)          Persiapan rujukan

   4)          Pemeriksaan darah rutin

   5)          Tes fungsi hati.

   6)          Profilaktik MgSO4 untuk mencegah kejang (eklampsia),

   7)          Bolus 4 – 6 g MgSO4 dalam kon­sentrasi 20%. Dosis ini diikuti dengan

infus 2 g per jam.

   8)          Jika terjadi toksisitas, masukkan 10 – 20 ml kalsium glukonat 10%  i.v.

   9)          Terapi antihipertensi harus dimulai jika tekanan darah senantiasa di atas     160/­110 mmHg → Hidralazin IV dosis rendah 2,5 – 5 mg (dosis inisial

5mg) setiap 15 – 20 menit sampai tekanan darah target tercapai atau kombinasi nifedipin dan MgSO4.

 

 

 

 

2.3. Penglihatan Kabur

1. Definisi

            Penglihatan  kabur adalah masalah visual yang mengidentifikasikan keadaan yang mengancam jiwa misalnya penglihatan berbayang, melihat bintik-bintik (spot), berkunang-kunang (Nurjanah, 2013).

2. Etiologi

Pada preeklamsia tampak edema retina, spasmus setempat atau menyeluruh pada satu atau beberapa arteri. Skotoma, diplopia, dan ambliopia pada penderita preeklamsia merupakan gejala yang menunjukkan akan terjadinya eklampsia. Keadaan ini disebabkan oleh perubahan aliran darah dalam pusat penglihatan di korteks serebri atau dalam retina. Perubahan pada metabolisme air dan elektrolit menyebabkan terjadinya pergeseran cairan dari ruang intravaskuler ke ruang interstisial. Kejadian ini akan diikuti dengan kenaikan hematokrit, peningkatan protein serum dan sering bertambahnya edema, menyebabkan volume darah berkurang, viskositas darah meningkat, waktu peredaran darah tepi lebih lama. Karena itu, aliran darah ke jaringan di berbagai bagian tubuh berkurang, dengan akibat hipoksia (Nurjanah, 2013).

Elektrolit, kristaloid, dan protein dalam serum tidak menunjukkan perubahan yang nyata pada preeklamsia. Konsentrasi kalium, natrium, kalsium, dan klorida dalam serum biasanya dalam batas-batas normal. Gula darah, bikarbonat dan pH pun normal. Kadar kreatinin dan ureum pada preeklamsia tidak meningkat, kecuali bila terjadi oliguria atau anuria. Protein serum total, perbandingan albumin globulin dan tekanan osmotic plasma menurun pada preeklamsia. Pada kehamilan cukup bulan kadar fibrinogen meningkat dengan nyata dan kadar tersebut lebih meningkat lagi pada preeklamsia (Nurjanah, 2013).

3. Patofisiologi

Perubahan penglihatan atau pandangan kabur, dapat menjadi tanda preeklampsi. Masalah visual yang mengidentifikasikan keadaan yang mengancam jiwa adalah perubahan visual mendadak, misalnya penglihatan  kabur atau berbayang, melihat bintik-bintik (spot) , berkunang-kunang.

Selain itu adanya skotoma, diplopia dan ambiliopia merupakan tanda-tanda yang menunjukkan adanya pre-eklampsia berat yang mengarah pada eklampsia. Hal ini disebabkan adanya perubahan peredaran darah dalam pusat penglihatan di korteks cerebri atau didalam retina (edema retina dan spasme pembuluh darah). Perubahan penglihatan ini mungkin juga disertai dengan sakit kepala yang hebat (Nurjanah, 2013)..

4. Faktor resiko

Menurut Saifuddin (2013) beberapa faktor resikonya, adalah:

1)     Primigravida

2)     Wanita gemuk

3)     Wanita dengan hipertensi esensial

4)     Wanita dengan kehamilan kembar

5)     Wanita dengan diabetes, mola hidatidosa, polihidramnion

6)     Wanita dengan riwayat eklamsia atau preeklamsia pada kehamilan

sebelumnya

7)     Riwayat keluarga eklamsi

5. Gejala Klinis

Menurut Saifuddin (2013) beberapa gejala klinisnya , adalah:

1)     Peningkatan tekanan darah yang cepat

2)     Oliguria

3)     Peningkatan jumlah proteinuri

4)     Sakit kepala hebat dan persisten

5)     Rasa mengantuk

6)     Penglihatan kabur

7)     Mual muntah

8)     Nyeri epigastrium

9)     Hiperfleksi

6. Penanganan Masalah

Menurut Saifuddin (2013) beberapa penanganan masalahnya, adalah:

1)      Informed consent

2)      Segera rawat

3)      Lakukan penilaian klinik terhadap keadaan umum sambil mencari riwayat penyakit sekarang dan terdahulu dari pasien atau keluarganya

4)      Persiapan rujukan

5)      Jika pasien tidak bernafas :

6)      Bebaskan jalan nafas

7)      Berikan oksigen

8)      Intubasi jika perlu

9)      Jika pasien tidak sadar atau koma :

·         Bebaskan jalan nafas

·         Baringkan pada satu sisi

·         Ukur suhu

10)  Jika pasien syok atasi dengan penanganan syok

11)  Jika ada perdarahan atasi penanganan perdarahan

12)  Jika kejang :

·         Baringkan pada satu sisi, tempat tidur arah kepala ditinggikan sedikit untuk mengurangi kemungkinan aspirasi secret, muntah/darah

·         Bebaskan jalan nafas

·         Pasang spatula lidah untuk menghindari tergigitnya lidah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III PENUTUP

 

3.1.      Kesimpulan

Adapun deteksi dini pada ibu nifas seperti sakit kepala, nyeri epigastrik, pengelihatan kabur, pembengkakan pada wajah atau ekstremitas, demam, muntah rasa sakit berkemih.

Seorang bidan perlu mengetahui tentang cara deteksi dini komplikasi tersebut pada ibu masa nifas dan penangannya. Hal ini ditujukan untuk terwujudnya asuhan nifas yang kompeten sehingga komplikasi pada masa nifas tidak lagi terjadi.

 

3.2       Saran

Diharapkan para pembaca lebih memahami dan mendalami isi makalah yang telah tertera di dalam makalah tersebut agar bisa diterapkan di lingkungan masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, Eny dan Diah Wulandari. 2010. Asuhan Kebidanan Nifas. Jogjakarta: Nuha Offset.

Nurjanah, Siti Nunung, et al. 2013. Asuhan Kebidanan Post Partum. Bandung: Refika Aditama.

Saifuddin, Abdul Bari. 2013. Buku Acuan Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Saleha, S. 2009. Asuhan Kebidanan Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika.

Sulistyawati, Ari.2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Yogyakarta: Andi Offset.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments

Post a Comment